Selasa, 31 Oktober 2017

Implementasi Kurikulum 2013 di Sekolah Dasar



 
IMPLEMENTASI  KURIKULUM 2013 DI  SEKOLAH             DASAR
 
A.Kurikulum 2013
Kurikulum 2013 atau Pendidikan Berbasis Karakter adalah kurikulum baru yang dicetuskan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI untuk menggantikan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Kurikulum 2013 merupakan sebuah kurikulum yang mengutamakan pemahaman, skill, dan pendidikan berkarakter, siswa dituntut untuk paham atas materi, aktif dalam berdiskusi dan presentasi serta memiliki sopan santun disiplin yang tinggi. Kurikulum ini menggantikan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan yang diterapkan sejak 2006 lalu.
Proses  pembelajaran  pada  Kurikulum  2013  untuk  semua  jenjang  dilaksanakan dengan  menggunakan  pendekatan  ilmiah  (saintifik).  Langkah-langkah  pendekatan ilmiah  (scientific  appoach)  dalam  proses  pembelajaran  meliputi  menggali  informasi melaui  pengamatan,  bertanya,  percobaan,  kemudian  mengolah  data  atau  informasi, menyajikan  data  atau  informasi,  dilanjutkan  dengan  menganalisis,  menalar,  kemudian menyimpulkan, dan mencipta. Untuk mata pelajaran, materi, atau situasi tertentu, sangat mungkin pendekatan ilmiah ini tidak selalu tepat diaplikasikan secara prosedural. Pada kondisi  seperti  ini,  tentu  saja  proses  pembelajaran  harus  tetap  menerapkan  nilai-nilai atau sifat-sifat ilmiah dan menghindari nilai-nilai atau sifat-sifat nonilmiah.
Proses penilaian pada Kurikulum 2013. Penilaian  pendidikan  sebagai  proses  pengumpulan  dan  pengolahan  informasi untuk  mengukur  pencapaian  hasil  belajar  peserta  didik  mencakup:  penilaian  otentik, penilaian  diri,  penilaian  berbasis  portofolio,  ulangan,  ulangan  harian,  ulangan  tengah semester,  ulangan  akhir  semester,  ujian  tingkat  kompetensi,  ujian  mutu  tingkat kompetensi, ujian nasional, dan ujian sekolah/madrasah. Proses  penilaian  dalam  kurikulum  2013  dirasakan  lebih  sulit  dan  rumit.
B. Survey Implementasi Kurikulum 2013
Tahun 2017 implementasi kurikulum 2013 (K-13) memasuki tahun ke-4. dalam implementasi K-13 revisi 2017 lebih menekankan aspek (1) penguatan pendidikan karakter, (2) penguatan literasi, dan (3) pembelajaran abad 21. Dari sudut pandang penulis yang merupakan bagian dari pendidik di sekolah yang sebagian tingkatan kelasnya sudah melaksanakan Kurikulum 2013, melalui kegiatan wawancara dari beberapa teman sejawat yang  mengajar dengan kelas pelaksana Kurikulum 2013 ada beberapa hal yang masih menjadi permasalahan atau kendala dalam pengimplemntasian Kurikulum 2013 di sekolah dasar diantaranya:
a)      Sulitnya mengubah mindset guru
Sesuatu yang baru itu memang agak sulit untuk diterima, tetapi sebagai pendidik Profesional harus mampu membuka pemikiran dan menerima perubahan. Bilamana  guru  mampu  berfikir  jernih  dan  besedia  merubah  paradigma  dalam menghayati  sistem  pendidikan  nasional  dan  menyadari  tantangan  global,  maka impementasi  kurikulum  2013  tidak  menjadikan  beban  yang  berlebihan  bagi  guru  dan sekolah. Dunia pendidikan  sudah harus memiliki cara pandang bahwa  kompetensi masa depan  yang  diperlukan  dalam  menghadapi  arus  globalisasi  antara  lain,  memiliki kecerdasan  spiritual  yang  baik,  memiliki  kemampuan  berkomunikasi,  kemampuan berpikir  jernih  dan  kritis,  memiliki  moral  yang  baik  sehingga  menjadi  warga  negara yang bertanggungjawab dan toleran terhadap pandangan yang berbeda, dan kemampuan hidup  dalam  masyarakat  yang  mengglobal.  Disamping  itu,  generasi  Indonesia  juga harus memiliki minat luas dalam kehidupan, memiliki kesiapan untuk bekerja, memiliki kecerdasan sesuai dengan bakat/minatnya, dan memiliki rasa tanggung-jawab terhadap lingkungannya.
b)      Perubahan proses pembelajaran dari teacher centered ke student centered
Meninggalkan gaya belajar konvensional, kebanyakan mereka belum dapat beralih dari kebiasaan lama, berperan sebagai guru (yang sifatnya mendominasi kelas), padahal pada Kurikulum 2013, guru lebih diharapkan berperan sebagai fasilitator dalam pembelajaran. Dalam proses pembelajaran yang berpusat pada siswa, maka siswa memperoleh kesempatan dan fasilitasi untuk membangun sendiri pengetahuannya sehingga mereka akan memperoleh pemahaman yang mendalam (deep learning), dan pada akhirnya dapat meningkatkan mutu kualitas siswa.
c)      Pengelolaan perangkat pembelajaran, lemahnya penguasaan bidang administrasi.
d)     Proses penilaian yang dianggap rumit. Banyak yang belum paham dalam memberikan penilaian dalam implementasi kurikulum 2013, 
e)      Guru masih kesulitan menerapkan scientific approach dalam kegiatan belajar mengajar. Pada intinya kurikulum 2013 ini menuntut guru lebih kreatif dan inovatif dalam proses pengajaran, seperti biasa hal yang baru akan mendapat penolakan karena sudah nyaman dengan proses pembelajaran yang sudah dilakukan sebelumnya,
f)       Kurangnya penguasaan IT Oleh Guru
g)      Minimnya sarana dan prasarana sekolah
Tidak dapat dipungkiri bahwa dalam proses pendidikan bahwa kualitas pendidikan tersebut juga didukung dengan sarana dan prasarana yang menjadi standar sekolah atau instansi pendidikan terkait. Sarana prasarana sangat mempengaruhi kemampuan siswa dalam belajar. Hal ini menunjukkan bahwa peranan sarana dan prasarana sangat penting dalam menunjang kualitas belajar siswa. masih banyak guru yang belum mau menjadi manusia pembelajar. Padahal, seorang guru dituntut untuk terus menambah pengetahuan dan memperluas wawasannya, terlebih setelah diberlakukannya kurikulum 2013.
h)      kecenderungan guru yang lebih banyak menekankan aspek kognitif. Padahal, semestinya guru juga harus memberikan porsi yang sama pada aspek afektif dan psikomotorik.
C. KESIMPULAN
Implementasi kurikulum 2013 juga hampir mirip dengan kurikulum KTSP, yaitu  menggunakan prinsip yang: (1) berpusat pada peserta didik, (2) mengembangkan kreatifitas peserta didik,  (3) menciptakan kondisi menyenangkan dan menantang,  (4)  bermuatan  nilai,  etika,  estetika,  logika,  dan  kinestetika,  dan  (5) menyediakan  pengalaman  belajar  yang  beragam  melalui  penerapan  berbagai  strategi dan  metode  pembelajaran  yang  menyenangkan,  kontekstual,  efektif,  efisien,  dan bermakna.
Pembelajaran pada Kurikulum 2013 menggunakan tematik integratif, pendekatan scientific, dan juga penilaian auntentik. Tematik integrative merupakan penggabungan dari beberapa mata pelajaran ke dalam satu tema, pendekatan scientific merupakan pendekatan melalui menanya, mencoba, dan menalar, sedangkan penilaian autentik merupakan penilaian yang mengukur semua kompetensi sikap, keterampilan, dan pengetahuan berdasarkan proses dan hasil.
D. SARAN
Mengacu pada permasalahan-permasalahan tersebut, pastinya pemerintah harus memudahkan pelaksanaan kurikulum 2013. Jika yang ingin dicapai adalah keterampilan sebagai hasil yang paling banyak diharapkan pada sekolah dasar, akan lebih baik jika dalam segi penilaian juga tidak terlalu dipusingkan dengan format-format penilaian yang menyulitkan. Guru, hendaknya mampu mengembangkan metode dan media pembelajaran dan belajar menjadi manusia pembelajar. Kegiatan supervisi untuk mengetahui perkembangan guru dan untuk mengetahui hambatan yang dihadapi guru ketika mengajar, serta pemerataan pelatihan terhadap guru dan berkesinambungan.
DAFTAR PUSTAKA
Departemen Pendidikan Nasional, 2003. Undang Undang Nomor 20 Tahun 2003. Tentang Sistem Pendidikan Nasional, Jakarta: Depdiknas
Peraturan Menteri Pendidikan  dan Kebudayaan  No. 21 Tahun 2016 tentang Kurikulum 2013 (Standar Isi). Jakarta: Depdiknas
Peraturan Menteri Pendidikan  dan Kebudayaan  No. 22 Tahun 2016 tentang Kurikulum 2013 (Standar Proses). Jakarta: Depdiknas
Peraturan Menteri Pendidikan  dan Kebudayaan  No. 23 Tahun 2016 tentang Kurikulum 2013 (Standar Penilaian). Jakarta: Depdiknas
Peraturan Menteri Pendidikan  dan Kebudayaan  No. 24 Tahun 2016 tentang Kurikulum 2013 (KI dan KD). Jakarta: Depdiknas